oleh

Madin Asyaif: Minta Pemerintah dan APH Tegas, Koordinasi Intens Demi Perlindungan Petani Singkong

banner 468x60

Lampung– Aksi estafet para petani singkong di Provinsi Lampung terus mendapat perhatian publik. Madin Asyaif Sekjen AMP sekaligus aktivis Lampung yang lantang mendukung perjuangan para petani, mengungkapkan bahwa ia tengah berkoordinasi dengan DPRD Provinsi Lampung dan Pj Gubernur Lampung untuk meminta tindakan tegas dan berpihak pada masyarakat petani.

Madin menegaskan bahwa sudah ada surat edaran terkait harga singkong, yakni Rp14.000 per kilogram dengan potongan tidak lebih dari 15%. Namun, implementasi kebijakan ini di lapangan masih jauh dari harapan. “Kami mendorong pemerintah daerah, khususnya DPRD dan Pj Gubernur, untuk mengambil langkah nyata. Kebijakan yang sudah ada harus ditegakkan agar tidak hanya menjadi sekadar tulisan tanpa dampak bagi petani,” ujar Madin.

banner 336x280

Selain itu, Madin juga akan berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk memastikan bahwa aksi demonstrasi masyarakat berjalan dengan aman tanpa adanya upaya kriminalisasi terhadap para petani maupun aktivis yang mendampingi mereka. “Kami tidak ingin ada pihak yang memanfaatkan situasi untuk menekan petani. Hak menyampaikan pendapat adalah bagian dari demokrasi, dan itu harus dilindungi oleh semua pihak, termasuk aparat penegak hukum,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum bagi para petani dan aktivis yang memperjuangkan keadilan. “Jika sampai ada yang dikriminalisasi, maka ini menjadi preseden buruk bagi perjuangan rakyat kecil. Tugas kita adalah memastikan keadilan berpihak pada masyarakat,” tambah Madin.

Aksi estafet yang melibatkan petani dari berbagai kabupaten ini, mulai dari Kantor Gubernur hingga penutupan tiga pabrik besar, menunjukkan tingkat kekecewaan petani terhadap rendahnya harga singkong yang tidak sebanding dengan biaya produksi. Madin berharap, melalui tekanan ini, pemerintah dapat segera menciptakan regulasi yang lebih pro-petani.

Ribuan petani yang berasal dari 7 Kabupaten yakni Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Utara, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, dan Way Kanan berkumpul sejak Senin (13/1/2025) pagi.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal keadilan sosial. Ketika kebijakan berpihak pada rakyat, maka kepercayaan kepada pemerintah akan tumbuh. Jangan biarkan petani merasa berjuang sendirian,” pungkas Madin.

Aksi para petani singkong ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan solusi jangka panjang yang menguntungkan petani dan perekonomian daerah.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *